Minggu, 10 Mei 2020 - 12:44:20 WIB
HISTORY TODAY: Hari Kelahiran Dokter Sulianti Saroso
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 402 kali

Saat ini namanya terus menghiasi pemberitan di berbagai media surat kabar baik di media elektronik ataupun media cetak. Bukan membicarakan sosoknya, namun  karena namanya diabadikan dalam bentuk sebuah rumah sakit, RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Rumah sakit ini menjadi rumah sakit utama di Indonesia yang menangani pasien positif virus corona Covid-19, dan merupakan rumah sakit vertikal tipe B non pendidikan yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rumah sakit ini terletak di daerah Sunter, Jakarta Utara. RSPI Sulianti Saroso berawal dengan didirikannya stasiun karantina di daerah pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1985, yang fungsi utamanya adalah menampung penderita penyakit cacar dari jakarta dan sekitarnya, dimana di antara tahun 1964 sampai tahun 1970 merawat penderita cacar sekitar 2.358 orang. RS Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso diresmikan pada tanggal 21 April 1995 dan berfungsi memberikan pelayanan medis, penunjang medis kepada seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan pelayanan RSPI-SS berupa pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, pelayanan rawat darurat, pelayanan operasi dan pelayanan ICU serta dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pendidikan tenaga kesehatan.

Perempuan kelahiran Karangasem, Bali tanggal 10 Mei 1917 memiliki nama panjang Julie Sulianti Saroso. Ia menempuh pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS (Europeesche Lagere School), lalu pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, yang sebagian besar siswanya merupakan orang orang eropa, dan  melanjutkan jejak sang ayah, dr Sulaiman untuk mendaftar pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Salemba Batavia. Ia lulus sebagai dokter pada tahun 1942.

Pada masa pendudukan Jepang, Sulianti bekerja sebagai dokter bagian penyakit dalam di RS Umum Pusat di Jakarta yang bernama Centrale Burgelijke Ziekenhuis/CBZ, yang kini dikenal sebagai RS Cipto Mangunkusumo. Pada awal kemerdekaan, ia ikut bertahan di rumah sakit besar itu. Namun, ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Sulianti turut hijrah menjadi dokter republiken dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta.

Di Yogya, Sulianti, yang oleh teman-temannya sering dipanggil sebagai Julie, itu benar-benar terjun sebagai dokter perjuangan. Ia mengirim obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik, dan terlibat dalam organisasi taktis seperti Wanita Pembantu Perjuangan, Organisasi Putera Puteri Indonesia, selain ikut dalam organisasi resmi KOWANI.

Dokter Sulianti bergerak cepat dan lincah, lebih mirip aktivis ketimbang birokrat. Melalui RRI Yogyakarta dan harian Kedaulatan Rakjat, ia menyampaikan gagasan tentang pendidikan seks, alat kontrasepsi, dan pengendalian kehamilan dan kelahiran. Bagi Sulianti, korelasi kemiskinan, malnutrisi, buruknya kesehatan ibu dan anak, dengan kelahiran yang tak terkontrol, adalah fakta terbuka yang tak perlu didiskusikan. Yang mendesak ialah aksi untuk memperbaikinya.

Dedikasi dan konsistensinya di bidang kedokteran membuat namanya harum hingga ke luar Indonesia. Oleh WHO dia diangkat menjadi anggota badan eksekutif dan bahkan pernah menjadi ketua Health Assembly atau Majelis Kesehatan, yang berhak menetapkan dirjen WHO.
.
‘’Ibu itu lebih sebagai dokternya masyarakat,’’ kenang sang putri, Dita Saroso. Filosofinya sebagai dokter bukan sebatas mengobati pasien, melainkan membuat masyarakat dari berbagai latarbelakang terutama kalangan menengah ke bawah untuk hidup sehat, sejahtera, dan bahagia.



» Berita Terkait






Artikel (116)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)