Rabu, 29 April 2020 - 10:44:45 WIB
Rohana Kudus: Membela Nasib Perempuan Lewat Tulisan
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 326 kali

“Aku ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong kaum perempuan,” kata Rohana.

Perjuangan kaum perempuan dalam lintasan sejarah tidak pernah berhenti. Perempuan selalu, berusaha melakukan pergerakan-pergerakan yang intens terhadap pemberdayaan diri dan potensi kaumnya. Salah satunya perjuangan yang dilakukan oleh Rohana Kudus, tokoh kelahiran Koto Gadang,   Kabupaten   Agam,   Sumatera Barat pada 20   Desember   1884. Beliau memiliki  nama  asli  Siti Rohana.  Ayahnya  bernama  Mohamad Rasjad  Maharadja  Soetan  dan  ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak  tiri  dari  tokoh Sutan  Sjahrir dan juga merupakan bibi dari penyair Chairil Anwar.

Meski  tidak  pernah  mengenyam pendidikan  formal,  tapi  kemampuannya tidak kalah dengan para anak-anak yang bersekolah formal.   Keinginan   dan   semangat belajarnya   yang   tinggi   menyebabkan Rohana  cepat  mengusai  materi-materi yang   diajarkan   oleh   ayahnya.   Materi pelajaran   tersebut   meliputi   membaca, menulis,  bahasa  Arab,  bahasa  Belanda, bahasa    Melayu,    berhitung. Rohana berteman   baik   dengan   istri   pejabat Belanda,  atasan  ayahnya.  Istri  pejabat Belanda  itu  mengajari  Rohana  materi-materi    keputrian    seperti    menyulam, menjahit,  menenun,  merajut,  memasak. Dari  berteman  baik  dengan  istri  pejabat Belanda  itu  pula  ia  banyak  membaca majalah  terbitan  Belanda  yang  memuat berbagai hal tentang politik, gaya hidup, dan  pendidikan  di  Eropa,  yang  sangat digemari  olehnya.

Rohana adalah seorang perempuan  yang  mempunyai  komitmen kuat   pada   pendidikan   terutama untuk kaum perempuan. Beliau percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan untuk mendapat  pendidikan  adalah  tindakan semena-semena    dan    harus    dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana   melawan   ketidakadilan   untuk perubahan nasib kaum perempuan. Minatnya semakin bulat untuk melakukan sesuatu di Koto Gadang, terutama mengeluarkan perempuan yang terpinggirkan dalam pendidikan. Akhirnya, atas bantuan Ratna Puti, seorang istri jaksa Kayu Tanam maka pada tanggal 11 Februari 1911 berdirilah perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS), sebagai tempat pendidikan bagai perempuan Koto Gadang. Maksud didirikan KAS ini adalah mengangkat derajat perempuan Melayu di Minangkabau dengan mengajari perempuan melalui: 1) Menulis membaca, 2) Berhitung, 3) Urusan Rumah Tangga, 4) Agama, akhlak, 5) Kepandaian tangan, 6) Jahit-menjahit, 7) Gunting menggunting, 8) Sulam menyulam, 9) Dan lain-lainnya.

Sekolah Keradjinan Amai Setia

Dalam perjalanan KAS, selanjutnya berkembang menjadi institusi pendidikan dan lembaga keterampilan bagai perempuan. KAS sebagai lembaga keterampilan perempuan, berkembapng pula menjadi usaha dagang hasil produksi perempuan. Hasil-hasil ketrampilan perempuan dipasarkan oleh KAS, untuk kepentingan kesejahteraan para perempuan yang bergerak dalam KAS. Semula KAS hanya menjual hasil kerajinan dari anak-anak didik Rohana, kemudian berkembang menjadi penjual hasil kerajinan masyarakat kampong Koto Gadang. Perkembangan yang luar biasa dari KAS adalah, KAS menjadi basis dan pusat kerajinan rumah tangga di Koto Gadang.

Medium perjuangan Rohana selanjutnya yaitu melalui pers. Melalui menulis Rohana mencoba untuk menuangkan apa saja yang dirasakan dalam hatinya.  Rohana memilih surat kabar sebab dalam bidang pers kaum perempuan dari Minang belum ada yang memegang keterampilan tersebut. Mayoritas pemimpin surat kabar adalah kaum laki-laki. Melihat hal tersebut Rohana menjadi tertarik pada pers. Selain itu, Rohana Kudus juga berpikir bahwa surat kabar jangkauannya luas sehingga membuat banyak orang akan membacanya. Rohana berharap melalui surat kabar kaum perempuan Minang akan lebih maju.

Surat kabar itu diberi nama Sunting Melayu dan terbit pada tanggal 10 Juli 1912. Kata Sunting berarti perempuan dan Melayu berarti di Tanah Melayu, artinya surat kabar Sunting Melayu merupakan surat kabar bagi perempuan di Tanah Melayu. Surat kabar Sunting Melayu mempunyai kata persembahan yaitu dari, oleh, dan untuk perempuan. Diharapkan dengan lahirnya surat kabar khusus perempuan ini maka semakin banyak perempuan Minang yang dapat ikut andil dalam memajukan kaum perempuan serta berjuang demi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Surat Kabar Soenting Melajoe

Surat kabar Sunting Melayu menyoroti segala hal mengenai perempuan. Sunting Melayu berisi syair, tajuk rencana, dan karangan yang menggambarkan keistimewaan perempuan. Sunting Melayu mampu memberikan pengaruh positif bagi perempuan Minang untuk mau belajar di Sekolah Kerajinan Amai Setia. Salah satu syair yang ada dalam surat kabar Sunting Melayu mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan harus bersama untuk maju. Perempuan tidak boleh menyerah akibat adanya perkataan orang dan harus terus maju untuk kehidupan yang lebih baik. Surat kabar Sunting Melayu membuat biaya pasang iklan sebesar 1 gulden (f) dengan ketentuan 5 cent satu kata. Iklan yang terpampang banyak jenisnya seperti batik, peralatan pembuatan pakaian, telegram, dan juga tentang kesehatan (obat dan jamu tradisional).

Kiprah Rohana Kudus di dunia pers memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain aktif di surat kabar Sunting Melayu dan Saudara Hindia, beliau juga bekerjasama dengan Satiman Parada Harahap untuk memimpin redaksi Perempuan Bergerak. Sekembalinya ke Minangkabau pada 1924, Rohana diangkat menjadi redaktur di surat kabar Radio, harian yang diterbitkan Cinta Melayu di Padang. Perjuangan Rohana tidak hanya untuk perempuan Minang namun juga untuk semua perempuan Indonesia. Atas semua kiprah dan bentuk perjuangan beliau di bidang pendidikan maupun pers, Rohana Kudus menjadi wartawan perempuan pertama Indonesia, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 11 Agustus 2019.

 

Kontributor: Zulfa Nurdina

Djaja, Tamar. 1980. Rohana Kudus: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Jakarta: Mutiara.

Fitriyanti. 2005. Rohana Kudus Wartawan Perempuan Pertama Indonesia. Jakarta: Yayasan d Nanti.

Setyowati, Hajar Nur. 2008. Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa. Jakarta: I BOEKOE.



» Berita Terkait






Artikel (116)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)