Senin, 27 April 2020 - 12:00:41 WIB
Sosok “Sang Pencerah” Kaum Perempuan
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 345 kali

Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan lahir pada 3 Januari 1872, ayahnya biasa dipanggil dengan nama Kiai Fadhil. Ibunya dikenal dengan nama Nyai Mas. Siti Walidah dibesarkan di lingkungan agamis tradisional. Perempuan pada waktu itu tidak boleh mengenyam pendidikan formal, dan hanya diperbolehkan belajar agama. Siti Walidah hanya dididik oleh kedua orang tuanya, beliau diajarkan berbagai aspek tentang Islam termasuk bahasa Arab dan al-Qur’an. Sejak kecil, kemampuan berdakwahnya sudah mulai diasah, sehingga beliau dipercaya ayahnya untuk membantu mengajar di langgar Kiai Fadhil.

Siti Walidah menikah pada tahun 1889 dengan Muhammad Darwis atau lebih dikenal dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Siti Walidah selalu mendampingi perjalanan suaminya dalam mendirikan dan  mengembangkan Muhammadiyah pada tahun 1912 M. Dari sana beliau belajar banyak dan juga kenal dengan beberapa tokoh Nasional teman Kiai Ahmad Dahlan seperti Jendral Sudirman, Bung Tomo, Bung Karno, dan Kiai Haji Mas Mansyur.

Gagasan tentang kesetaraan perempuan di pendidikan dan dakwah Islam, dimulai Siti Walidah dengan mengusahakan pendidikan (pengajian) bagi kaum perempuan di Kauman. Modal utamanya dari kelompok belajar membaca Al- Qur’an yang diperuntukkan bagi gadis-gadis Kauman yang masuk Sekolah Netral. Konon, surat yang diajarkan pertama kali adalah al-Ma’un. Murid-murid kelompok belajar dilatih agar peka terhadap fenomena kemiskinan yang hampir marak di kalangan umat Islam. Pintu hati mereka diketuk untuk memberikan pertolongan kepada kaum fakir-miskin. Bentuk-bentuk pertolongan sesuai kemampuan, yang kaya membantu dengan uang sedang yang tidak cukup kaya, tetapi sehat, dianjurkan membantu dengan tenaga. Bagi yang pintar dianjurkan membantu dalam bentuk sumbangan pikiran.

Pada tahun 1914, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan kelompok pengajian yang diberi nama Sopo Tresno. Sebuah kelompok pengajian untuk gadis-gadis terdidik di sekitar Kauman, Yogyakarta. Pengajian ini tidak hanya belajar tentang agama tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat. kemudian pada tahun 1923 pengajian Sopo Tresno diganti namanya menjadi ‘Aisyiyah, lembaga khusus perempuan. Dalam lembaga ‘Aisyiyah ini Nyai Ahmad Dahlan mencoba memperkenalkan pemikirannya bahwa perempuan mempunyai hak yang sama untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Selain itu beliau juga menentang praktik kawin paksa. Tekanan terhadap kaum perempuan telah membuka wacana Nyai Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan kaum perempuan.

Kaum ibu maupun remaja putri juga dikumpulkan untuk mengikuti pengajian. Berawal dari Kauman, dan berkembang ke kampung lain, seperti Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman. Pengajian yang diisi oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Siti Walidah ini berlangsung setelah Ashar sehingga perkumpulan pengajian ini dikenal dengan nama Wal’Ashri. Ada juga pengajian yang diperuntukkan bagi para buruh batik di Kauman.

Awal abad ke-20, Yogyakarta dikenal sebagai pusat indistri batik, dan kampung Kauman adalah salah satu sentranya. Berkembangnya industri batik di Kauman, berkorelasi dengan banyanknya buruh yang didatangkan dari luar Yogyakarta. Para buruh adalah representasi masyarakat pekerja yang terpinggirkan, dan tidak mempunyai akses untuk belajar. Dibutuhkan keberpihakan sebagaimana dipraktikkan Siti Walidah dengan menyelenggarakan pengajian bagi para buruh yang lebih sering luput dari perhatian. Dipengajian itu, mereka belajar agama, membaca, dan menulis, agar bisa bersikap jujur dan tidak merasa kecil hati karena menganggap dirinya bodoh. Perkumpulan pengajian inilah yang dikenal dengan nama Maghribi School, karena diadakan setelah Maghrib, usai para buruh menuntaskan pekerjaan.

Nyai Ahmad Dahlan menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban yang sangat besar dalam pendidikan untuk mengentaskan kaumnya dari belenggu kebodohan. Untuk itu beliau mulai mendidik kader-kader muda bangsa melalui pondok, khusus bagi anak perempuan. Pemikiran Nyai Ahmad Dahlan ini pada awalnya mendapat tentangan dari masyarakat, namun kemudian sedikit demi sedikit masyarakat dapat menerimanya. Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946. Atas jasa-jasa Nyai Ahmad Dahlan dalam usaha meningkatkan derajat kaum perempuan, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyai Ahmad Dahlan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 042/TK/Tahun 1971. Pengaruh peran Nyai Ahmad Dahlan masih terasa hingga saat ini, dengan masih eksisnya Organisasi Aisyiyah dalam naungan Muhammadiyah yang berkembang dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Arah gerakan perjuangan Siti Walidah sama dengan pejuang perempuan sebelumnya yaitu membangkitkan dan memberdayakan potensi kaum perempuan.

 

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

Sumber:

Alfiyanti, Dina. 2012. Mengenal Pahlawan Nasional Jilid 1. Jakarta: Erlangga Group.

Anis, Yunus. 1968.  Riwayat Hidup Nyai Ahmad Dahlan Ibu Muhammadiyah dan Aisyiyah Pelopor Pergerakan Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Mercusuar.

Nur Setyowati, Hajar & Mu’arif. 2011. Srikandi-Srikandi ’Aisyiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Yusuf, Yunan, dkk. 2005. Ensiklopedi Muhammadiyah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



» Berita Terkait






Artikel (116)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)