Minggu, 26 April 2020 - 11:16:57 WIB
SK Trimurti: Tangguh, Berprinsip, Pembelajar
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 262 kali

Wanita hebat yang akan kita bahas selanjutnya adalah SK Trimurti. Nama beliau sudah sering kita dengar, tapi mungkin belum banyak yang mengenal kiprahnya. Penasaran? Baca artikel ini yuk!

_________________________________________________________________________________

Kontributor: Swa S. Adinegoro untuk muskitnas.net

Purwokerto, tahun 1932. Seorang ibu guru muda ikut mendengarkan orasi dari seorang tokoh dalam sebuah rapat umum partai politik. Wanita itu begitu terkesan dengan orasi tersebut, sehingga setahun setelahnya ia memutuskan untuk berhenti dari karirnya sebagai guru demi bergabung dengan partai politik tersebut. Wanita muda itu bernama Surastri, sedangkan tokoh politik yang disebutkan di atas ialah Soekarno, pembesar Partai Indonesia (Partindo).

Surastri lahir di Boyolali pada tanggal 12 Mei 1912. Usianya masih 20 tahun ketika ia pergi ke Purwokerto dan mendengarkan orasi Bung Karno. Setelah bergabung dengan Partindo, hatinya yang tergerak untuk mendalami politik membawanya ke Bandung. Disanalah Soekarno memintanya untuk menerbitkan tulisan pertamanya yang terbit dalam harian Fikiran Ra’jat, sebuah media massa yang dimiliki oleh Partindo.

Selepas Bung Karno diasingkan di Ende (1936), Surastri tetap getol menulis. Tulisannya dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah, sebut saja di antaranya Berdjoeang, Suara Marhaeni, dan Pesat. Nada tulisannya yang kerapkali mengecam pemerintah kolonial membuatnya harus berulang kali berurusan dengan jeratan hukum. Tapi Surastri memang seorang wanita tangguh, dan ia tidak kapok untuk terus menulis. Pada periode itu ia kerap kali menggunakan nama samaran ‘Karma’ atau ‘Trimurti’, yang kelak akhirnya menyatu dengan nama lahirnya menjadi Surastri Karma Trimurti (SK Trimurti).

SK Trimurti menikah dengan sesama jurnalis, Sayuti Melik, yang di kemudian hari dikenal sebagai pengetik naskah teks proklamasi. Mereka sama-sama kritis dalam media cetak, sehingga keduanya berulang kali ditangkap oleh pemerintah kolonial. Trimurti dan Sayuti saling menghargai, meskipun pandangan politik mereka berbeda. Sayuti menganut ideologi politik Partai Indonesia Raya (Parindra) besutan dr. Soetomo, sementara Trimurti adalah anggota Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang dipimpin Amir Sjarifuddin. Perbedaan ideologi dalam lingkup organisasi mereka tidak pernah mereka jadikan masalah dalam rumah tangga. Kelak, meskipun mereka bercerai, Trimurti tetap menjalin hubungan baik dengan mantan suaminya itu.

Euforia kemerdekaan tidak mengubah sikap kritis Trimurti. Ia ditunjuk oleh Soekarno untuk menjadi Menteri Perburuhan dalam kabinet Amir Sjarifuddin, sebuah posisi yang diembannya dari tahun 1947 hingga 1948. Selepas itupun dirinya tetap aktif menulis, bahkan tidak jarang mengkritisi pemerintah republik. Ia memiliki satu nama samaran lagi: Mak Ompreng, yang pada awal dekade 60-an getol menyuarakan opini dari sudut pandang wanita kelas akar rumput. Di masa orde baru ia kembali menunjukkan nyali dengan menjadi salah satu tokoh yang menandatangani Petisi 50, sebuah petisi dari tokoh-tokoh bangsa untuk mengkritisi pemerintah pada masa itu.

Dalam hal organisasi, Trimurti juga menjadi salah satu tokoh dalam pembentukan Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berdiri tahun 1950. Pada tahun 1954, nama organisasi tersebut berubah menjadi Gerwani. Trimurti sendiri akhirnya memutuskan untuk hengkang dari organisasi tersebut setelah haluan ideologi Gerwani semakin condong ke arah kiri.

Selain tangguh dan berprinsip, ada satu hal lain dari SK Trimurti yang dapat kita jadikan sebagai inspirasi. Beliau tidak malu untuk terus belajar. Dalam usia 41 tahun, Trimurti terdaftar sebagai mahasiswa jurusan ekonomi di Universitas Indonesia. Begitu besar keinginannya untuk menuntaskan studinya tersebut, hingga rela menolak tawaran untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959.

SK Trimurti wafat pada tanggal 20 Mei 2008 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Seorang wanita yang menunjukkan pada kita semua bahwa perempuan bisa menyampaikan aspirasinya dengan lantang, bernyali tangguh serta berjiwa pembelajar. Luar biasa!

 

Referensi:

-Ardanareswari, Indira. 2019. Kisah SK Trimurti Mengagumi dan Mengkritik Soekarno (dimuat dalam tirto.id)

https://tirto.id/kisah-sk-trimurti-mengagumi-dan-mengkritik-sukarno-ejgB

-Asril, Sabrina (editor). 2015. SK Trimurti, Srikandi Revolusi yang Tolak Kursi Menteri (dimuat dalam kompas.com)

https://nasional.kompas.com/read/2015/11/16/06300091/SK.Trimurti.Srikandi.Revolusi.yang.Tolak.Kursi.Menteri?page=all

-Redaksi Kumparan. 2017. Mengenang SK Trimurti, Wanita Pejuang Kemerdekaan Pers (dimuat dalam kumparan.com)

https://kumparan.com/kumparannews/mengenang-sk-trimurti-wanita-pejuang-kemerdekaan-pers

-Setiyono, Budi. (tanpa tahun). Sayuti Melik-SK Trimurti: Kisah Asmara Sepasang Pejuang (dimuat dalam historia.id)

https://historia.id/politik/articles/sayuti-melik-sk-trimurti-kisah-asmara-sepasang-pejuang-DrBXY

-Setiyono, Budi. (tanpa tahun). SK Trimurti, Menteri Perburuhan Pertama (dimuat dalam historia.id)

https://historia.id/politik/articles/sk-trimurti-menteri-perburuhan-pertama-PdWM3

-Yuliastuti, Dian. 2008. Istri Pengetik Naskah Proklamasi Meninggal (dimuat dalam tempo.co)

https://nasional.tempo.co/read/123350/istri-pengetik-naskah-proklamasi-meninggal



» Berita Terkait






Artikel (116)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)