Jumat, 24 April 2020 - 05:54:06 WIB
Rasuna Said: Orator Ulung Pejuang Hak-hak Perempuan
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 383 kali

Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan tokoh Sumatera Barat sekaligus pahlawan nasional Indonesia yang berperan memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia pada tahun 1926-1965. Beliau lahir pada tanggal 14 September 1910 di desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Rasuna Said lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya, Haji Muhammad Said atau yang kerap disapa Haji Said saat masih muda merupakan seorang aktivis pergerakan di Sumatera Barat. Berasal dari keluarga terpandang membuat segala kebutuhan Rasuna Said dapat terpenuhi, salah satunya pendidikan. Sekolah pertama yang diikuti Rasuna Said ialah Sekolah Desa yang berada di dekat tepian Danau Maninjau. Ayahnya mulai memasukkan ke sekolah tersebut pada tahun 1916.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said setelah menamatkan Sekolah Dasar kemudian melanjutkan belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu- satunya santri perempuan. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah. Dengan bekal yang dimiliki oleh Rasuna Said inilah kemudian  muncul sebuah kesadaran pentingnya sebuah pendidikan bagi kaum perempuan.

Pada saat itu Hajjah Rangkayo Rasuna Said sempat mengajar di Madrasah Diniyah Putri sebagai guru namun pada tahun 1930 Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukan pendidikan politik dalam kurikulum Madrasah Diniyah Putri tetapi usahanya tersebut ditolak.

Madrasah Diniyah Putri

Hajjah Rangkayo Rasuna Said dikenal sangat gigih memperjuangan kaum perempuan untuk dapat bergerak dalam bidang politik dan jurnalisme. Beberapa aktivis perempuan memiliki pemahaman atau penekanan isu yang sedikit berbeda tentang emansipasi perempuan, sebut saja Rasuna Said yang lebih menekankan pentingnya kesadaran politik perempuan sebagai bagian dari emansipasi perempuan. Dapat dikatakan bahwa Rasuna Said adalah aktivis perempuan pertama yang percaya bahwa perempuan tidak dapat dipisahkan dari politik.

Rasuna Said mengawali karir politiknya pada tahun 1926 dengan bergabung dalam Sarekat Rakyat. Beliau duduk dalam kepengurusan sebagai sekretaris cabang Maninjau. Dikarenakan minat yang tinggi akan dunia politik, beliau juga bergabung dengan organisasi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI atau Permi) pada tahun 1930. Organisasi ini didirikan oleh perhimpunan “Sumatra Thawalib”. Rasuna Said aktif memberikan kursus-kursus seperti berpidato dan latihan berdebat. Berkat kepiawaiannya, ia menjadi satu-satunya anggota perempuan yang mendapat julukan “Singa Betina”. Beliau sempat dikenakan tuduhan melanggar artikel 153 tentang larangan berbicara di muka umum atau yang disebut spreekdelict. Beliau dipenjara satu tahun dua bulan di penjara Bulu, Semarang, Jawa Tengah.

Sumatera Thawalib

Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan K.H. Mochtar Jahja dan Dr. Kusuma Atmaja dan pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Karena ruang gerak yang dibatasi Belanda Rasuna Said pindah ke Medan dan mendirikan sekolah pendidikan khusus perempuan yaitu Perguruan Putri dan juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar pentingnya peran perempuan, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan keislaman. Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Alasan Rasuna Said masuk dalam organisasi tersebut karena Rasuna Said ingin memperjuangkan kedudukan perempuan yang saat itu sedang dijajah oleh pihak kolonial.

Aktivitas dan perjuangan Rasuna juga patut mendapatkan apresiasi dan sejatinya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan selanjutnya. Emansipasi wanita yang ia tegakkan sebagai bagian dari upayanya untuk menegakkan kesetaraan gender yang selama beberapa dekade berada dalam kekuasaan patriarki. Ada beberapa hal yang mesti kita pahami dari sepak terjang Rasuna Said. Pertama, Rasuna merupakan simbol perempuan pejuang, yang tidak saja pandai bicara tapi juga seorang organisatoris. Hal itu, ia tunjukkan dengan terlibat dalam banyak kegiatan perjuangan dan sekolah-sekolah. Satu hal lagi, bahwa Rasuna juga seorang penulis. Terbukti, ia mampu mendirikan majalah Menara Putri dan berperan sebagai seorang pemimpin redaksi pada Majalah Raya. Dengan kemampuannya ini, praktis beliau adalah seorang multi talenta.

Majalah Menara Poetri

Kedua, beliau adalah seorang penganut idealisme yang kuat. Terbukti, untuk mewujudkan kebebasan negeri ini dari tangan penjajah Belanda dan Jepang serta tegaknya emansipasi perempuan, ia rela dipenjara. Ketiga, eksistensinya di Dewan Perwakilan Sumatera dan anggota DPR-RIS juga menjadi autokritik terhadap perempuan lain yang memiliki posisi yang sama. Ia memperlihatkan kepada kaum perempuan bahwa untuk menjadi seorang dewan itu tidak harus menjual pesona kecantikan semata, tapi juga kelebihan intelektual.

Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan

Rasuna Said telah merasakan hidup dalam tiga zaman, ia berhasil menjalani kehidupan dari masa kolonial Belanda, Jepang, sampai revolusi kemerdekaan. Perempuan yang disebut “Srikandi Indonesia” ini masih aktif dalam keanggotaan Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia hingga memasuki usia 55 tahun, tanpa disadari dirinya mengidap penyakit kanker payudara. Rasuna Said meninggal dunia pada hari Selasa, 2 November 1965 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Rasuna Said dianugerahi sebuah tanda Kehormatan Satyalancana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan dan Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan. Pengusulan gelar pahlawan akhirnya disahkan pada tanggal 13 Desember 1974 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 sebagai pahlawan pergerakan nasional. Nama Rasuna Said diabadikan sebagai nama sebuah jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kontributor: Zulfa Nurdina

Sumber:

Jahroni, Jajang. 2002. Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kamajaya. 1982. Sembilan Srikandi Pahlawan Nasional. Yogyakarta: U.P. Indonesia.

Rasidi, Edi. 2010. Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita. Jakarta: Yudhistira Ghalia Indonesia.

Safwan, Mardanas. 1997. Sejarah Pendidikan Sumatera Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

White, Sally. 2013. Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independence Movement. Singapore: NUS Press.



» Berita Terkait






Artikel (128)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Virtual Tour Muskitnas (1)