Minggu, 19 April 2020 - 14:38:57 WIB
Kartini dalam Masa Pingitan
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 349 kali

“Betapapun indah dan mewah sebuah sangkar, bagi burung yang terkunci di dalamnya, itu tetap sangkar !”

Belum genap berusia 13 tahun, Kartini dipaksa tunduk pada aturan adat yang mengharuskannya dipingit sampai datangnya lamaran dari seorang pria. Kodratnya sebagai anak lincah yang periang terputus. Sikap dan tingkah lakunya harus mencerminkan puteri bangsawan sejati yang berbicara dengan suara halus dan lirih, berjalan setapak demi setapak, menundukkan kepala jika anggota keluarga yang lebih tua lewat, serta masih banyak lagi aturan-aturan adat yang harus dipelajari dan dipatuhi.

Rumah besar berhalaman luas dengan tembok tinggi dan tebal menjadi kurungan yang memutuskan hubungan Kartini dengan dunia luar. Kartini menceritakan perasaannya saat pertama kali menjalani pingitan kepada Stella:

“Betapa luasnya rumah dan halaman kami, namun jika  kami harus selalu tinggal disitu, akhirnya sesak juga rasanya. Teringat oleh saya, karena rasa putus asa yang tidak terhingga berulang kali saya mengempaskan badan pada pintu yang selalu tertutup dan pada dinding batu dingin itu.

Usaha membebaskan Kartini dari pingitan pernah dilakukan oleh teman dan kenalannya dari Eropa tapi semuanya berujung pada kegagalan. R.M. Sosroningrat tidak bergeming pada keputusan yang diambilnya.

(R.M Sosroningrat di Pendopo Kabupaten Jepara)

Kartini berusaha mengurangi penderitaan dengan berbagi cerita kepada R.A. Soelastri tentang keinginannya memajukan perempuan kalangan bangsawan. Kartini berharap mendapat simpati dan dukungan, namun dengan acuh kakaknya menjawab “Silakan, Saya orang Jawa“.

Pemikiran Kartini dinilai salah karena berlawanan dengan adat yang berlaku, karena itu R.A. Soelastri melarang adik-adiknya kumpul bersama Kartini. Rasa takut terhadap kakak yang lebih tua menjadikan R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah mematuhi perintah tersebut.

(R.A Soelastri di Tengah Tiga Saudara)

Ujian berat Kartini saat menjalani masa pingitan adalah penolakan Ibunda Mas Ajeng Ngasirah terhadap gagasan dan cita-citanya untuk merubah nasib kaum perempuan. Penolakan tersebut lahir karena kesenjangan pengetahuan yang sangat lebar antara ibu dan anak.

Penderitaan Kartini dalam menjalani masa pingitan menjadi semakin berat, saat R.M. Slamet Sosroningrat menyelesaikan pendidikan HBS di Semarang. Kakaknya kembali tinggal dalam lingkungan Kabupaten Jepara dengan menempati kedudukan terhormat, sementara pandangannya dalam menilai harkat dan martabat manusia masih sangat feodal. Kartini menolak semua aturan kakaknya yang dinilai merendahkan perempuan, sehingga menimbulkan konflik di antara keduanya.

Kakak dan adik kandung ini setiap hari selalu bersitegang, keduanya sama-sama angkuh dan keras. Ketegangan antara keduanya menjadi pemandangan yang biasa, tetapi tidak ada yang berusaha mendamaikan. Perselisihan antara kedua saudara kandung ini mereda hanya pada saat R.M. Sosroningrat ada dalam rumah.

Masa pingitan menjadi masa yang penuh dengan kesedihan dan kesunyian, karena tidak ada yang mendukung gagasannya dalam membela kaum perempuan. Kartini sadar menangisi nasib tidak akan menyelesaikan masalah, yang diperlukan sekarang adalah berusaha dan berjuang.

Kartini memanfaatkan ruang pingitan untuk memuaskan kegemarannya membaca. Buku, surat kabar, atau majalah dengan beragam tema dibacanya. Kartini mampu menyeleksi dan mengkritik buku-buku yang dibacanya. Buku yang berkualitas akan dibaca berulang-ulang, sementara buku yang tidak bisa memberikan pengetahuan akan disingkirkan.

Membaca dan membuat catatan menjadi rutinitas yang membuat Kartini terus bersemangat mewujudkan impian lahirnya persamaan hak dan derajat antara laki-laki dan perempuan.

R.M. Sosroningrat senang melihat kegemaran anaknya membaca, karena itu diputuskan untuk berlangganan kotak bacaan (leestrommel) yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri yang ditukar setiap minggu. Bacaan yang belum dipahami akan dicatat dan ditanyakan kepada kakak kesayangannya, R.M. Sosrokartono yang sedang melanjutkan pendidikan HBS di Semarang.

(R.M. Sosrokartono)

Kepulangan R.M. Sosrokartono selalu dinanti oleh Kartini, karena menjadi hiburan yang menyenangkan. Kartini bisa mencurahkan semua perasaan hatinya yang selama ini terpendam, yang tidak mungkin diceritakan kepada saudara-saudaranya yang lain. Berakhirnya masa liburan R.M. Sosrokartono menjadi masa yang sangat menyedihkan, karena Kartini harus berpisah dengan kakak tersayang yang mengerti dan memahami penderitaannya.

Pada 1896 R.M. Slamet Sosroningrat ditugaskan ke daerah lain, sedangkan R.A. Soelastri menikah dengan Raden Ngabehi Tjokroadisosro sehingga harus mengikuti suaminya ke Kendal. Kedudukan Kartini berubah menjadi puteri tertua, yang berhak mengatur urusan adik-adiknya.

Kartini mengajak R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah tinggal satu kamar, sehingga kebersamaan di antara mereka terjalin kembali. Sikap Kartini tersebut menjadikan adik-adiknya kagum dan menaruh hormat terhadap kebesaran jiwanya.

(Potret Tiga Saudara)

Empat tahun menjalani masa pingitan, Kartini hanya lima kali keluar dari lingkungan rumah, yaitu saat melakukan ziarah kubur ke makam keluarga pada awal bulan puasa. Penderitaan masa pingitan selama empat tahun diceritakan Kartini kepada Nyonya Abendanon melalui surat:

“Empat tahun telah lewat, cukup tenang dan tentram bagi mereka yang berpikiran dangkal. Namun bagi orang yang berpikiran bijak, waktu sepanjang itu merupakan perjuangan lahir dan batin. Boleh jadi dalam tiga tahun ia dapat belajar banyak menguasai diri, bersedia mengalah dan tidak terlalu mengutamakan diri sendiri. Tetapi ia tidak belajar tawakal dan tidak dapat belajar“.

Kebersamaan tiga saudara dalam menjalani pingitan menjadikan beban yang berat terasa ringan. Menggambar, melukis, dan main piano menjadi salah satu aktifitas yang dijalani setiap hari. Siang hari dimanfaatkan oleh Mas Ajeng Ngasirah untuk mendidik anak-anaknya belajar membatik. Ketekunan mereka belajar membatik menjadikan tiga saudara memahami proses membatik dari awal sampai akhir. Kartini menuliskan pengetahuan membatiknya dengan judul De Batikkunst in Indie.

(Tiga Saudara Membatik)

Perubahan yang dilakukan oleh Kartini mendorong Bupati Sosroningrat melonggarkan aturan pingitan. Pada 1896 tiga bersaudara diajak mengikuti perjalanan dinas, Kartini sangat bahagia dengan perjalanan tersebut dan diceritakan kepada sahabatnya Stella “Alhamdulillah! Alhamdulillah! Saya boleh meninggalkan penjara saya sebagai orang bebas“.

Pada 2 Mei 1898 R.M. Sosroningrat memutuskan untuk membebaskan tiga saudara dari pingitan. Mereka diikutsertakan dalam perayaan penobatan Ratu Wilhelmina di Semarang. Kehadiran tiga saudara di Semarang mendapat cibiran dari bangsawan yang masih berpikiran kolot. Bupati Sosroningrat tidak memperdulikan cibiran tersebut, beliau bahkan mengizinkan tiga saudara mengunjungi desa-desa di Jepara untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Masyarakat dengan jujur dan terbuka menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Adik-adik Kartini menulis secara rinci apa yang disampaikan oleh masyarakat, catatan tersebut menjadi bahan diskusi untuk dicarikan jalan keluarnya. Salah satu permasalahan yang berhasil diatasi oleh tiga saudara adalah kemiskinan yang membelit para pengrajin ukir di Kampung Belakanggunung.

Kartini berusaha menghubungi beberapa orang Belanda di Semarang dan Batavia untuk membantu mempromosikan kerajinan seni ukir Jepara. Kartini menugaskan kepada pengrajin ukir dari Belakanggunung membuat berbagai macam furnitur dan kerajinan untuk dipasarkan ke Semarang, Batavia, dan Belanda. Harga kerajinan mereka mampu dijual dengan harga yang tinggi, sehingga kesejahteraan pengrajin bisa meningkat.



» Berita Terkait






Artikel (116)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)