Selasa, 12 November 2019 - 17:20:06 WIB
Soetomo dan Bung Tomo: Sama atau Beda?
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 3188 kali

dr. Soetomo dan Bung Tomo adalah dua tokoh yang berperan penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Apakah keduanya orang yang sama?

TIDAK.

Nama dari kedua orang tersebut memanglah sangat mirip. Nama asli Bung Tomo adalah Sutomo, tetapi Bung Tomo dan dr. Soetomo adalah dua tokoh yang berbeda. Terkadang masih banyak yang mengira bahwa dua tokoh ini adalah orang yang sama. Padahal mereka berbeda generasi dalam perjuangannya. Antara dr. Soetomo dan Bung Tomo hidup di dalam generasi yang berbeda.

dr. Soetomo adalah pahlawan sebelum kemerdekaan. Beliau adalah ketua organisasi Boedi Oetomo pada masa awal pergerakan perjuangan kemerdekaan. Sedangkan Bung Tomo adalah tokoh pahlawan saat mempertahankan kemerdekaan, tepatnya saat pertempuran di Surabaya pada bulan November 1945. Kedua pahlawan ini meskipun sama-sama lahir di Jawa Timur. Namun, dr. Soetomo lahir di Ngepeh, Nganjuk, pada tanggal 30 Juli 1888 dan wafat pada tanggal 30 Mei 1938. Sedangkan Bung Tomo lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920 dan wafat di Padang arafah, Mekkah, pada tanggal 7 Oktober 1981 saat sedang menunaikan ibadah haji. Kedua pahlawan ini memiliki peran yang sangat besar bagi Indonesia. Hingga tanggal-tanggal penting perjuangan mereka diperingati sebagai hari besar, yaitu 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Soebroto adalah nama kecil Soetomo, inisiator di balik berdirinya Budi Utomo. Lelaki kelahiran Nganjuk, 30 Juli 1888 ini mengganti namanya jadi Soetomo saat masuk ke sekolah menengah. Beberapa bulan setelah sang ayah meninggal, Soetomo bertemu Dokter Wahidin Soedirohoesodo di Batavia. Kala itu ia sedang berkampanye keliling untuk menggalang beasiswa bagi pelajar bumiputra. Soetomo amat tertarik dengan ide itu lantas menjajaki kemungkinan merealisasikannya.

Tapi barangkali kebanyakan orang hanya mengenalnya sebatas itu, sebagaimana buku pelajaran sekolah mengabarkannya. Padahal aktivitasnya tak hanya berhenti di Budi Utomo. Namanya kemudian memang tak setenar Sukarno-Hatta-Sjahrir, tapi perannya merentang panjang. Usai lulus dari STOVIA pada 1911, Soetomo berpindah-pindah tempat dinas sebagai dokter. Pada 1919 ia dapat beasiswa untuk menempuh ujian dokter di Universitas Amsterdam. Di sana, selain kuliah, tentu saja Soetomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging. Di antara para mahasiswa Indonesia di Belanda, Soetomo dianggap senior dan dihormati. Ia juga sempat dipilih jadi ketua Indische Vereeniging periode 1921-1922.

Usai menempuh pendidikan spesialis penyakit kulit di Jerman, Dokter Soetomo mudik ke Indonesia pada 1923. Ia kini menetap di Surabaya dan berdinas lagi di Rumah Sakit Simpang. Suratmin dalam biografi Dr. Soetomo (1982) menyebut sang dokter juga bertugas sebagai pengajar di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Saat ia kembali, pergerakan nasional sudah makin semarak. Selain Budi Utomo, kini telah berdiri pula Sarekat Islam dan PKI. Tapi ia tak lantas bergabung dengan salah satu dari ketiganya. Ia tak sreg dengan SI dan PKI yang dikotomis dan cenderung radikal, sementara Budi Utomo dirasanya semakin kolot. Pada 1924 ia lantas bikin sendiri gerakan yang lebih cair dan berbasis pendidikan: Indonesische Studieclub.

Kegiatan utama Indonesische Studieclub adalah diskusi politik dan pembahasan persoalan publik. Kebanyakan anggotanya adalah pelajar. Model ini lalu diikuti Sukarno di Bandung dengan Algemeene Studieclub. Setelah jalan sekira enam tahun, Soetomo mengembangkan Indonesische Studieclub jadi organisasi politik. Per 16 Oktober 1930 namanya berganti jadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada akhir 1935 PBI dan Budi Utomo berfusi jadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Tak hanya berpolitik, Parindra pimpinan Soetomo juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi melalui bank, koperasi, dan organisasi tani. Lain itu, ia juga menginisiasi pendirian beberapa panti asuhan dan rumah sakit.

Sedangkan Bung Tomo dikenal sebagai pengobar semangat tempur dalam Peristiwa 10 November 1945. Selain itu dia salah satu pemimpin laskar yang sangat legendaris dan belakangan ditarik ke Kementerian Pertahanan. Pengobar semangat pertempuran 10 November 1945 bukan pria berkepala cepak atau botak ala Serdadu Jepang. Juga bukan lulusan Akademi Militer macam Napoleon. Pengobar pertempuran Surabaya adalah pemuda gondrong ala Arung Palakka. Dia bersenjatakan mikropon (baca: Arung Palaka di Antara Gelar Pahlawan dan Pengkhianat). Pemuda ini bukan pemuda yang sekadar bermodal nekat, tapi seorang yang pakai otak. Sebagai pemuda yang pernah makan bangku sekolah kolonial, dia tahu teknologi bernama radio. Lewat mikropon dan pancaran Radio Pemberontakan milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tersiar pidato-pidatonya yang menjaga moral arek-arek Suroboyo.

Pidato-pidatonya lazim dibuka dengan “Bismillahirahmanirahim” dan pasti selalu dibumbui dibumbui pekik: “Merdeka!” Tak lupa juga, ditengah rasa curiga terhadap orang-orang Ambon dan Sulawesi Utara yang dicap pro Belanda, dalam pidatonya ia malah mengatakan “Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi” terlebih dahulu sebelum menyebutkan daerah lainnya. Pidato terkenal ini lalu ditutup dengan: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!”

Sebelum Revolusi pecah, sehari-harinya, setidaknya sejak 1938 beliau sudah menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat. Selain itu, setelah kantor berita Antara berdiri, Bung Tomo menjadi pemimpin redaksi biro Surabaya. Soal militer, beliau diakui sebagai pendiri dan pemimpin dari Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di Surabaya. Dia memimpin di laskar itu dari 12 Oktober 1945 hingga Juni 1947. Laskar perjuangan ini punya anggota hingga ke Kalimantan di masa revolusi.

Di masa orde lama, Bung Tomo pernah menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata (Veteran) dari 12 Agustus 1955 hingga 1956 dalam kabinet Perdana Menteri Burhanudin Harahap. Dalam Legiun Veteran, Bung Tomo adalah Ketua II Bidang Ideologi Sosial Politik. Selain itu, berdasar Pemilu 1955, Bung Tomo melalui Partai Republik Indonesia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (1955-1959).



» Berita Terkait






Artikel (123)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)
Virtual Tour Muskitnas (1)