Sabtu, 02 November 2019 - 09:16:08 WIB
HISTORY TODAY: Penandatanganan Konferensi Meja Bundar
Diposting oleh : Zulfa
Kategori: Artikel - Dibaca: 190 kali

Konferensi Meja Bundar diadakan di Den Haag dari tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949. Suatu rentang yang cukup panjang di meja perundingan yang menguras tenaga dan pikiran. Perundingan yang berjalan lambat memang sudah menjadi suatu ciri klasik Belanda yang selalu keberatan menerima resolusi-resolusi Republik atau barangkali juga sifat nasionalisme Hatta yang amat prinsipil sehingga sulit mengalah. Perundingan KMB tidak semudah yang dibayangkan, perlu perhitungan khusus untuk menerima suatu keputusan.

Pada 17 Agustus 1949 bangsa Indonesia yang tergabung dalam delegasi Republik Indonesia dan BFO secara bersama memperingati proklamasi 1945 di Den Haag. Masalah-masalah yang dibicarakan dalam KMB meliputi berbagai hal, hal itu tercermin dari macam-macam panitia yaitu panitia politik, hukum dan ketatanegaraan, panitia bidang dan keuangan, panitia kemiliteran, panitia kebudayaan dan panitia sosial. Sebenarnya acara utama dalam KMB adalah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia yang pada kenyataannya meluas ke permasalahan lain. Masalah yang paling hangat dibicarakan di KMB adalah masalah keuangan, Belanda mendesak supaya Indonesia menerima untuk membayar utang luar negeri Belanda sejumlah f. 3167 juta dan utang dalam negeri sebesar f.2956 juta. Suatu jumlah yang amat fantastis dan tidak masuk akal. Hatta tentu saja marah dan tidak mau menerima tuntutan Belanda, ia memintta ketua subkomite ekonomi dan keuangan dari pihak Indonesia, yaitu Dr.Sumitro Djojohadikusumo untuk menyajikan angka-angka tandingan. Hatta juga mengirimkan pesan kepada Nehru melalui telegram supaya meyakinkan Amerika bahwa Belanda menuntut terlalu banyak.

Hatta memanfaatkan situasi perang dingin dengan melaporkan bahwa situasi keuangan Indonesia begitu buruk sehingga jikalau Belanda tidak mengurangi tuntutannya, maka mungkin ia akan menyarankan supaya kedaulatan diberikan saja secara langsung kepada kaum komunis. Akan tetapi atas desakan Cochern sebagai wakil PBB Hatta dengan berat hati menerima tuntutan tersebut dengan pengurangan sampai f.2000 juta pada angka awal Belanda, sambil mengingatkan bahwa kehilangan kedaulatan bukan hanya akan menyebabkan permusuhan baru, akan tetapi juga berarti kehilangan simpati Amerika Serikat.

Masalah lain yang dibicarakan di KMB adalah masalah Irian Barat yang hampir membuat Konferensi menemui jalan buntu. Belanda bersikeras menolak untuk membebaskan Irian Barat, Hatta sendiripun tidak mau manyerah dan akan terus memperjuangkannya. Pada akhirnya Hatta, dengan segala pertimbangannya mengambil keputusan untuk menangguhkan masalah Irian Barat supaya konferensi terus berjalan membahas masalah-masalah lain. Hatta berpendapat bahwa penundaan masalah itu lebih baik daripada menghabiskan waktu konferensi dan ini merupakan persoalan yang lebih mudah dan realistis untuk bisa diselesaikan setelah Belanda mengambil langkah penting untuk kedaulatan. Masalah Irian Barat ini terpecahkan dinihari tanggal 1 November 1949 setelah batas waktu pembicaraan dengan kompromi tersebut.

Sidang akhirnya ditutup tanggal 2 November 1949 dengan ditandatanganinya dokumen resmi hasil dari KMB. Dari semua persoalan yang dibahas dalam perundingan dengan Belanda dalam KMB, bagi Republik permasalahan yang paling berat adalah menerima bentuk federal bagi negara Indonesia, tetapi dengan bentuk federal ini Belanda mau menyerahkan dan mengakui kedaulatan dan kemerdekaaan negara Indonesia. Sejenak Hatta dan anggota lainnya terdiam dan meyakinkan pada diri mereka bahwa bentuk negara federal hanya bersifat sementara, mengingat rakyat Indonesia tidak menyukai bentuk negara federal ini. Harapan dari para wakil delegasi Indonesia terbukti dengan keberhasilan mengubah bentuk federal menjadi negara Kesatuan Republik Indonesia dengan jangka waktu tujuh bulan pada tanggal 17 Agustus 1950.



» Berita Terkait






Artikel (75)
Berbagi (1)
Berita (24)
Kajian (6)