Senin, 28 Oktober 2019 - 14:40:20 WIB
Inisiator Sumpah Pemuda Kepercayaan Sukarno
Diposting oleh : Zulfa
Kategori: Artikel - Dibaca: 181 kali

Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Sejak usia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia bersekolah di Ambonsche Burgerschool, tempat pamannya menjadi kepala sekolah. Ketika pamannya pindah tugas ke Cimahi pada 1914, dia turut serta. Ibunya tak mengijinkan, dia nekat menyelinap ke dalam kapal. Jo muda bergabung dalam Jong Ambon dan aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1922, dia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra). Setelah bekerja sebagai dokter selama sebelas tahun, dia memperdalam penyakit dalam di Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran). Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir mengangkat Leimena menjadi menteri muda kesehatan, belum sebagai menteri penuh. Baru pada kabinet Amir Sjarifuddin, dia diangkat menjadi menteri penuh.

Leimena sangat terkenal akan kesederhanaan, kejujuran, dan kelembutannya. Sampai-sampai Presiden Sukarno menyebut Leimena sebagai “orang paling jujur yang pernah kutemui”. Bahkan, Sukarno dalam kesempatan lain menyebutnya mijn dominee yang artinya "pendetaku". Selain sederhana, Leimena juga dikenal sebagai sosok yang toleran. Dia bersahabat baik dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang memperjuangkan Syariat Islam. Natsir menyebut Leimena sebagai Meneer de Dominee atau Tuan Pendeta. Toleransi Jo terbukti ketika dia merestui salah satu putrinya menikah dengan seorang muslim, lalu mengikuti iman suaminya

Johannes Leimena merupakan seorang dokter yang turut menjadi inisiator deklarasi Sumpah Pemuda pada 1928. Memasuki usia muda, Leimena mulai aktif dalam kegiatan pemuda terutama di GKI Kwitang. Ia juga mengikuti pertemuan-pertemuan tentang gerakan ekumene dan gerakan nasionalisme. Selama menjadi mahasiswa, beliau aktif dalam sejumlah organisasi seperti Jong Ambon dan Christelijke Studentenvereniging (CSV).

Upaya mempersatukan berbagai organisasi pemuda dalam satu wadah telah dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Maka, pada 20 Februari 1927 diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. Kemudian pada 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi, dan dilanjutkan pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini dihadiri semua organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan Kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia dengan setiap jabatan dibagi kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan). Ketua panitia adalah Sugondo Djojopuspito dari Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Johannes Leimena sebagai wakil Jong Ambon menjadi  Pembantu IV dalam kepanitiaan tersebut.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari PPPI, sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan. Rumah di Jalan Kramat Raya ini adalah milik seorang Tionghoa, Sie Kok Liong.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia. Pada saat bersamaan, diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Johannes Leimena masih berumur 23 tahun.

Pada 1945, Leimena bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia lalu menjadi ketua umum pada 1950 sampai 1957. Dia juga turut membentuk Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) yang kini bernama Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Ketika menjadi menteri kesehatan, Leimena berhasil meracik salep untuk mengobati penyakit kulit ringan yang sering diidap rakyat kecil. Label “Salep Leimena” sangat mujarab dan terkenal pada zamannya. Dia kembali lagi membuktikan diri sebagai menteri sekaligus dokter inovatif yang peduli rakyat kecil.

Leimena juga merumuskan rencana pembangunan kesehatan gratis untuk pencegahan dan penyembuhan serta perimbangan fasilitas pelayanan kesehatan di kota dan desa. Rencana ini terlaksana dan sekarang dikenal sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu, Leimena juga membentuk Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA), yang kemudian menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Sejarah mencatat Leimena sebagai menteri dengan masa jabatan terlama, yakni 21 tahun dengan 18 kabinet berbeda pada era Sukarno. Dia juga merupakan satu dari sedikit orang dekat Sukarno yang ‘selamat’ dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dia sempat ingin dipertahankan Soeharto sebagai menteri, namun menolak secara halus dengan perantara Sultan Hamengkubuwono IX. Namun, dia masih diminta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga tahun 1973. Selepas itu, Leimena kembali aktif di Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Dia sempat pula menjadi Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di akhir perjalanan hidupnya, dia masih sempat kembali menjadi dokter dan menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Leimena wafat pada 26 Maret 1977 di Jakarta. Nyong Ambon itu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2016.



» Berita Terkait






Artikel (75)
Berbagi (1)
Berita (24)
Kajian (6)