Selasa, 08 Oktober 2019 - 15:14:21 WIB
Mengenal Seorang Dokter Tionghoa Penolong Kaum Miskin
Diposting oleh : Zulfa
Kategori: Artikel - Dibaca: 174 kali

Sang dokter terlahir dengan nama Oen Boen Ing. Namun masyarakat Surakarta lebih mengenalnya dengan nama Dr. Oen. Boen Ing lahir di Salatiga, 3 Maret 1903. Lulus dari Hollandsch Chineesche School (HCS) Salatiga, Boen Ing meneruskan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Semarang, dan kemudian melanjutkan ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Sejak kecil, Boen Ing sudah bermimpi untuk menjadi dokter. Impian tersebut pertama kali muncul ketika melihat sang kakek yang bekerja sebagai sinse di Salatiga. Kakeknya mengobati para pasien tanpa berkenan menerima bayaran. Selepas lulus dari AMS, Boen Ing tetap teguh pada cita-citanya untuk menjadi dokter. Namun niatan tersebut ditentang kedua orang tuanya. Ayahnya jelas menginginkan Boen Ing untuk meneruskan bisnis tembakau keluarga yang telah bertahan selama beberapa generasi. Lantaran niat Boen Ing sudah bulat, keluarga besar pun tak dapat menahan keinginannya. Ia pun mendaftarkan diri ke STOVIA di Batavia sebagai mahasiswa kedokteran.

Selama di STOVIA, Boen Ing terlibat aktif dalam perhimpunan pelajar sekolah menengah Tionghoa bernama Chung Hsioh. Di organisasi itu ia mulai terlibat berbagai diskusi kritis terkait perpolitikan Hindia Belanda. Boen Ing juga sempat melayani di Jang Seng Ie (sekarang Rumah Sakit Husada) sebagai sekretaris pada 1929, ketika poliklinik tersebut tengah berada di titik terendah akibat serangkaian konflik internal dan krisis ekonomi dunia. Selepas menyandang gelar dokter dari STOVIA pada 1932, Dr. Oen sempat melayani di Poliklinik Gie Sing Wan di Kediri. Selama di Gie Sing Wan, Dr. Oen melayani tanpa memikirkan materi. Di Kediri ia bertemu dengan Corrie Djie Nio, yang kelak dipersuntingnya pada 16 November 1934. Setelah enam tahun melayani di Kediri, keduanya kemudian memutuskan mengabdi di Surakarta.

Pada awalnya, Dr. Oen melayani di Ziekenzorg (sekarang RSUD Dr. Moewardi Surakarta). Kemudian ia banyak menghabiskan waktunya untuk mengembangkan Poliklinik Tsi Sheng Yuan (sekarang RS Dr. Oen Surakarta). Poliklinik ini didirikan pada 1933 oleh Hua Chiao Tsing Nien Hui (HCTNH/Perhimpunan Pemuda Tionghoa) yang merasa prihatin dengan sistem pelayanan kesehatan yang diskriminatif dan tingginya angka kematian bayi di Surakarta. Poliklinik Tsi Sheng Yuan memberikan pertolongan kesehatan cuma-cuma kepada penduduk dengan penghasilan di bawah 10 gulden per bulan.

 

Dr. Oen pernah menjadi dokter untuk Rode Kruis (Palang Merah) dan juga pimpinan dari Rumah Sakit Darurat Jebres. Sosok Dr. Oen digambarkan sebagai figur yang “ontzettend populair bij alle bevolkingsgroepen” (sangat terkenal di seluruh lapisan masyarakat) dan “erg behulpzaam” (sangat penolong). Dalam sehari, Dr. Oen dapat menerima lebih dari 200 pasien di rumahnya, dan lebih dari setengahnya bahkan dilaporkan tidak perlu membayar sepeser pun.

 

Selama masa Revolusi, Dr. Oen selalu menyediakan waktu guna mengobati tentara Republik yang terluka, sekalipun tidak jarang pada saat yang bersamaan ia juga disibukkan melayani ratusan pasien lain. Sekalipun dirinya tidak pernah mengangkat senjata, Dr. Oen rela mempertaruhkan nyawa dengan keluar-masuk zona merah. Strategi "jemput bola" tersebut dianggap lebih aman guna meminimalisasi kecurigaan tentara Belanda.
 Dr. Oen juga dikenal karena jasanya menyelundupkan penisilin bagi Jenderal Soedirman yang saat itu tengah menderita TBC. Tindakan tersebut tergolong berani mengingat risiko yang sangat serius bila Belanda sampai mengendusnya.

Ada satu hal tak lazim yang dijalani Dr. Oen dalam praktiknya. Ia mulai mengobati para pasien sejak pukul 03.00 di rumahnya yang terletak di kawasan Pasar Legi, Banjarsari. Dr. Oen melayani sendiri seluruh pasien yang datang berobat ke kliniknya, mulai dari menyuntik pasien, memeriksa, menulis resep, hingga memanggil pasien. Kemudian ia membubuhkan tanda khusus atau stempel pada resep tersebut, sebagai kode bagi Apotek Surakarta bahwa seluruh biaya obat sang pasien akan ditanggung sepenuhnya oleh sang dokter. Bagi pasien yang berkenan membayar, maka mereka diperkenankan untuk memasukkan uang ke dalam sebuah kotak yang terletak di dekat ruang praktik. Mengenai besaran nominalnya, tidak pernah dihiraukan oleh Dr. Oen yang sudah keburu sibuk memeriksa pasien berikutnya.

Pengabdian Dr. Oen selama beberapa dekade di dunia kesehatan serta perjuangannya membantu tentara Republik di masa Revolusi membuatnya dianugerahi penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial oleh pemerintah Indonesia pada 30 Oktober 1976. Penghargaan tersebut diberikan atas usulan para veteran Tentara Pelajar yang pernah ditolong Dr. Oen. Mereka menganggap perjuangan gerilya yang dilakukan di Surakarta tidak dapat dipisahkan dari jasa-jasa Dr. Oen. Kondisi kesehatan Dr. Oen terus menurun sejak April 1977. Sang dokter akhirnya tutup usia dalam usia 79 pada 30 Oktober 1982. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, dihelat sebuah upacara khusus di Pura Mangkunegaran. Mangkunegara VIII memimpin langsung upacara tersebut. Tepat setahun setelah kepergiannya, Yayasan Kesehatan Panti Kosala memutuskan untuk mengabadikan nama Dr. Oen menggantikan nama RS Panti Kosala. 



» Berita Terkait






Artikel (75)
Berbagi (1)
Berita (24)
Kajian (6)