Jumat, 06 September 2019 - 09:31:31 WIB
Anak Angkat Wahidin Soedirohoesodo yang Cemerlang
Diposting oleh : Zulfa
Kategori: Artikel - Dibaca: 146 kali

Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 dari keluarga biasa. Selagi masih kecil, beliau sudah kehilangan orangtuanya. Prihatin dengan nasibnya, Dr. Wahidin Soedirohoesodo menolong pemuda berbakat dan penuh cita-cita itu untuk memperoleh pengajaran yang baik. Radjiman lulus dari Sekolah Dokter Bumiputera (STOVIA) sebagai “dokter jiwa” pada 1898. Setelah beberapa tahun bekerja di Banyumas, Purworejo, Semarang, dan Madiun, beliau meneruskan pendidikannya dan menjadi asisten di STOVIA sampai lulus sebagai Indische Arts. Beliau kemudian bekerja di Sragen, menjadi asisten dokter istana Kasunanan Surakarta, dan dokter rumahsakit jiwa Lawang Jawa Timur –namanya kemudian dilekatkan pada rumah sakit tersebut: Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat.

Dalam buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Penjajah 1600-1950 tulisan Harry A. Poeze, pada Oktober 1909 Radjiman tiba di Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan sebagai dokter untuk mengkhitan putra-putra Susuhunan. Beliau lulus dengan “hasil cemerlang” dan bergelar Arts. Dengan demikian kedudukan dokter Radjiman setaraf dengan dokter-dokter lulusan Universitas bangsa Belanda. Sesuatu hal yang waktu itu tidak mudah dicapai oleh seorang anak pribumi, jika tidak sungguh-sungguh cemerlang kecakapan dan kepandaiannya.

Radjiman menjadi orang Indonesia kedua, setelah W.K. Tehupeiory, yang berceramah di Indisch Genootschap (Indies Institute) pada Februari 1911. Dalam ceramahnya, beliau memberikan jawaban atas pertanyaan “apakah orang Jawa dapat menerima pencerahan lebih lanjut.” Pidato Radjiman, yang dilengkapi cuplikan dari buku-buku psikologi, diterima dengan penuh pujian. 

Selain di Belanda, Radjiman memperdalam keahliannya di Berlin dan Paris. Beliau menjadi dokter ahli bedah, ahli ilmu bersalin, dan ahli penyakit kandungan. Sepulang dari Belanda pada pertengahan 1911, Radjiman menjadi dokter istana Kasunanan Surakarta yang pertama di Solo. Selain itu, dia kembali aktif di Boedi Oetomo sebagai wakil ketua, menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), dan memimpin majalah tengah bulanan TimboelPada masa pendudukan Jepang, Radjiman menduduki jabatan-jabatan prestius tapi yang terpenting adalah ketua BPUPKI. Radjiman Wedyodiningrat wafat pada 20 September 1952. Jenazahnya dikebumikan di Desa Melati, Sleman, Yogyakarta, tempat peristirahatan terakhir bapak angkatnya, Wahidin Soedirohusodo.

 



» Berita Terkait






Artikel (75)
Berbagi (1)
Berita (24)
Kajian (6)