Sabtu, 31 Agustus 2019 - 18:33:55 WIB
Satu Siswa Perempuan di antara Ratusan Siswa Laki-laki STOVIA
Diposting oleh : Zulfa
Kategori: Artikel - Dibaca: 226 kali

Pada 1851, sebuah sekolah dokter berdiri untuk pertama kalinya di Hindia Belanda. Mulanya bernama Sekolah Dokter Djawa, lalu akhirnya berganti menjadi School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA), Sekolah Dokter untuk pribumi Hindia Belanda. Saat itu, dominasi murid di STOVIA adalah kaum laki – laki. Perempuan yang berupaya untuk mendaftar ke STOVIA masih mendapatkan penolakan. Hingga akhirnya, kemunculan Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Belanda membawa perubahan yang cukup besar di kalangan STOVIA. Pertemuannya dengan Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg membawa angin segar bagi dunia medis di Hindia – Belanda, terutama untuk kaum perempuan.

Dalam pertemuannya dengan Idenburg, Aletta Jacobs menyampaikan pernyataannya bahwa perempuan di rumah sakit membutuhkan penanganan dari tenaga medis perempuan. Hal yang masih menjadi keterbatasan ini disebabkan oleh beberapa peraturan dari pihak penguasa yang menyulitkan kaum perempuan untuk mendaftar ke STOVIA. Berkat jasa Aletta Jacobs inilah kaum perempuan akhirnya bisa menikmati bangku sekolah kedokteran di Hindia Belanda. Kemudian, hal inilah yang menghasilkan dokter perempuan pertama di Indonesia yang bernama Marie Thomas.

(Aletta Jacobs, Dokter Perempuan Pertama di Belanda)

Marie Thomas lahir di Likopang, Minahasa, Sulawesi Utara pada 17 Februari 1896 dari pasangan Adrian Thomas dan Nicolina Maramis. Ayahnya adalah seorang tentara, sehingga kerap berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lainnya. Hal ini membuat Marie dan adiknya sering berpindah-pindah sekolah. Ia menyelesaikan pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS), sebuah sekolah khusus anaka-anak Eropa dan bumiputera beragama Kristen di Manado. Marie Thomas lulus dari ELS pada tahun 1911.

Satu tahun setelahnya, STOVIA dan NIAS (de Nederlandsch Indische Artsenschool) – Sekolah kedokteran di Surabaya yang berdiri pada 1912 – membuka kesempatan bagi siswa perempuan untuk mendaftarkan dirinya di sekolah pendidikan dokter. Namun sayang, kaum perempuan masih dipersulit dengan beberapa hal seperti membayar biaya pendaftaran dan menanggung biaya hidup mereka sendiri, berbeda dengan kaum laki-laki yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.

Melihat keadaan itu, beberapa perempuan Belanda di Batavia mendirikan sebuah yayasan yang bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan bagi perempuan bumiputera yang ingin melanjutkan sekolah di bidang kedokteran. Dengan nama Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen (SOVIA), yayasan ini didirikan oleh oleh Charlotte Jacobs (saudara perempuan Aletta Jacobs) bersama Marie Kooij – van Zeggelen dan Elisabeth van Deventer – Maas. Mereka menyediakan beasiswa bukan hanya bagi dokter perempuan, namun juga kepada para siswa sekolah keperawatan.

(Para Perempuan Penggagas Yayasan SOVIA)

Marie Thomas berhasil mendapatkan beasiswa dari SOVIA yang kemudian menghantarnya masuk ke STOVIA di Batavia pada 1912. Waktu itu, Marie adalah satu-satunya siswa perempuan diantara 180 siswa laki-laki dalam sekolah kedokteran tersebut. Dua tahun kemudian, seorang perempuan bernama Anna Warouw datang ke STOVIA sebagai siswa pendidikan dokter.

Marie menyelesaikan pendidikannya di tahun 1922 dan langsung bekerja sebagai dokter di rumah sakit terbesar di Batavia kala itu, Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) – sekarang RS Cipto Mangunkusumo. Marie adalah sosok yang penuh talenta dengan berbagai pencapaian yang ia terima dalam kariernya sebagai dokter, termasuk spesialisasinya dalam bidang ginekologi dan kebidanan. Selain itu, Marie merupakan salah satu dokter yang pertama kali terlibat dalam kebijakan mengontrol kelahiran bayi lewat metode kontrasepsi Intrauterine Device (IUD).

(Marie Thomas sebagai Dokter Spesialis dalam Bidang Ginekologi dan Kebidanan)

Marie Thomas menikah dengan Mohammad Yusuf, teman kelasnya selama bersekolah di STOVIA. Setelah menikah, Marie dan Yusuf pindah ke Padang, kampung halaman Yusuf dan bekerja di sana sebagai dokter. Marie dan Yusuf memiliki dua orang anak bernama Sonya dan Eri. Selain kariernya sebagai dokter, Marie pernah tergabung dalam Persatoean Minahasa, sebuah organisasi yang didirikan pada 1927. Ia bergabung selama tiga tahun di organisasi tersebut. Tahun 1940, ia menjadi bendahara sebuah organisasi lokal di Padang bernama Vereeniging van Indonesische Geneeskundigen. Di tahun 1950, ia mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi. Sekolah kebidanan tersebut merupakan yang pertama kali berdiri di Sumatera, dan kedua di Indonesia.

Marie meninggal pada tahun 1966 di usianya yang ke-70 tahun karena pendarahan otak secara tiba-tiba. Hingga akhir hayatnya, ia tetap mendedikasikan dirinya dalam dunia kedokteran dan pendidikan kebidanan. Meski tidak banyak yang mengenal namanya sebagai perempuan Indonesia yang pertama kali menjadi dokter, jasa-jasanya dan kontribusinya dalam dunia kesehatan kala itu menjadi inspirasi banyak orang.



» Berita Terkait






Artikel (75)
Berbagi (1)
Berita (24)
Kajian (6)