Kamis, 08 Agustus 2019 - 14:18:03 WIB
Mencari Jejak Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo di Ambarawa (Bagian 1)
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Kajian - Dibaca: 410 kali

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa kolonial, menuju masa kini dan masa depan menjadi rangkaian kesatuan pemikiran yang merespon pada tumbuhnya rasa nasionalisme bangsa yang pada waktu itu sedang terjajah oleh pemerintah kolonial  Belanda, dan itu terus berkembang untuk merespon tantangan  yang berbeda pada masa kini, dan  pada gilirannya diharapkan mampu menjadi kekuatan dalam menangkal tantangan yang terjadi di masa depan. Dengan kata lain bisa dipahami  tentang pendapat yang menyatakan bahwa sejarah menjadi pengalaman yang mampu menjadi pelajaran dalam menghadapi tantangan di masa kini, serta menjadi pegangan dalam menetapkan perencanaan di masa depan. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Cicero yang menyatakan bahwa barang siapa yang tidak mengenal sejarahnya, akan tetap menjadi anak kecil (Sartono Kartodirdjo, 1992: 23), maka tidaklah berlebihan jika kita beranggapan bahwa ide-ide pemikiran nasionalisme dr. Tjipto Mangoenkoesoemo masih sangat relevan  dalam mempertahankan identitas budaya bangsa di tengah terpaan derasnya arus  globalisasi  yang seolah memaksakan nilai-nilai barunya. Keadaan ini seringkali membuat para pemuda sebagai generasi penerus bangsa, sering menjadi seperti kehilangan jati dirinya.

Mengingat kiprahnya dalam masa pergerakan yang begitu luar biasa, Museum Kebangkitan Nasional melakukan penelusuran data dan pengkajian mengenai tokoh dr. Tjipto Mangoenkoesoemo di tanah kelahirannya yang juga merupakan tempat peristirahatan terakhir dari dr. Tjipto.  Kajian dilakukan pada tanggal 29 Juli - 2 Agustus 2019 di daerah Ambarawa Jawa Tengah. Objek pertama yang dituju oleh tim kajian adalah komplek makam Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo di Watu Ceper, Lingkungan Kupang Tegal, Kelurahan Kupang, Ambarawa. 

Tim kajian bertemu dengan Bapak Priyono selaku juru kunci makam Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo pada pukul 10.15 WIB. Berdasarkan keterangan narasumber, diketahui bahwa Makam Dokter Tjipto berada di tanah milik leluhur Mangoenkoesoemo. Di area makam tersebut juga terdapat makam istri, adik, anak, dan kedua orangtua pahlawan nasional tersebut. Saat ini kompleks makam Dokter Tjipto juga menjadi tempat pemakaman umum bagi warga Kelurahan Kupang. Makam Dokter Tjipto dan kerabatnya dikelilingi pagar untuk membedakan dengan makam warga. Sementara itu, keluarga besar Mangoenkoesoemo tidak lagi tinggal di Ambarawa.

Makam dari Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo terbuat dari batu alam berwarma hitam, menurut keterangan juru kunci hal tersebut sesuai dengan wasiat Dokter Tjipto bahwa pusaranya jangan terbuat dari marmer, namun dari batu saja. Makam Dokter Tjipto bersebelahan dengan makam istri keduanya yang merupakan seorang Belanda bernama Marie Vogel. Kawasan makam ini direhabilitasi oleh pemerintah pada tahun 1989 dengan menambahkan prasasti Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo di area makam. Pada prasasti ini terdapat ukiran wajah Dokter Tjipto dengan menggunakan blangkon dan relief tulisan “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang berarti segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan harus disingkirkan.

Selain itu, makam adik Dokter Tjipto yang bernama Dokter Gunawan Mangoenkoesoemo, dikenal sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo juga disemayamkan di komplek makam tersebut. Makam ini berada dalam satu pagar bersama kedua orangtuanya Bapak dan Ibu Mangoenkoesoemo.

Pada area belakang makam Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo diketemukan pula makam anak angkatnya yang bernama Pestiati. Dalam usahanya membasmi wabah pes di Malang, Dokter Tjipto menemukan seorang bayi di gubug yang hampir separuh terbakar dan bayi tersebut telah yatim-piatu karena semua orang tuanya telah meninggal dunia akibat pes. Anak ini kemudian dibesarkan dan dididik oleh Dokter Tjipto bersama istrinya Marie Vogel.

Tidak jauh dari lokasi makam, diketemukan monumen patung Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo di Jalan Jenderal Soediarto Nomor 18, Kupang Dalangan, Ambarawa. Patung Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo setinggi 4 meter tersebut digambarkan memakai pakaian surjan, jarik, mengenakan udeng serta membawa tas. Patung ini karya tiga seniman kakak beradik dari Ambarawa yaitu Kuncoro Budi P, Nugroho Adi Prabowo dan Hartanto Agus Yuwono.



» Berita Terkait






Artikel (84)
Berita (24)
Kajian (6)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)