Kamis, 09 Agustus 2018 - 09:20:03 WIB
Sistem Pendidikan Hindu di Pasraman Gurukula Bangli, Bali
Diposting oleh : Untari
Kategori: Kajian - Dibaca: 357 kali

Vasudhaiva Kutumbhaka yang berarti dunia adalah sebuah keluarga, menjadi filosofi visi yayasan pendidikan Pasraman Gurukula Bangli, Bali. Disaat perbedaan-perbedaan menjadi salah satu pemantik sebuah konflik dalam masyarakat, Pasraman Gurukula Bangli justru meleburkan semua perbedaan dunia dalam bingkai sebuah keluarga. Pasraman Gurukula merupakan lembaga pendidikan yang berusaha menghidupkan kembali sistem pendidikan Hindu di masa lampau. Pasraman Gurukula diresmikan pada 23 Maret 2003 oleh Menteri Agama Republik Indonesia.

Pasraman Gurukula menempati lahan dengan luas 2000 m2 di Jalan Puncak Hyang Ukir, Bangli, Bali. Pasraman ini didirikan gagasan I Negah Arnawa, yang berkeinginan menghidupkan kembali sekolah model Pasraman seperti yang ada dalam kompleks Candi Gunung Kawi. Pelajar di Pasraman Gurukula adalah anak-anak yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu dari segi ekonomi, tetapi memiliki kemauan untuk belajar.

Biaya pendidikan di Pasraman Gurukula Bangli adalah semua gratis, mulai dari biaya sekolah formal, asrama, kebutuhan sehari-hari siswa, hingga jaminan kesehatan siswa. Untuk saat ini Pasraman Gurukula Bangli terdapat pendidikan mulai dari Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Pasraman Gurukula Bangli menggunakan dua kurikulum, yaitu kurikulum 2013 untuk sekolah formal, dan kurikulum pasraman yang digunakan untuk mengembangkan sistem pendidikan tradisional hindu.

Menurut keterangan I Wayan Arsada, selaku Kepala Sekolah Pasraman Gurukula, semua murid harus diajarkan untuk mandiri, disiplin, tanggung jawab, sederhana, dan mengutamakan kebersamaan. Bagi Pasraman Gurukula, dunia adalah keluarga tak terkecuali mereka yang berbeda agama. Murid yang terdapat di Pasraman Gurukula Bangli adalah 138 anak, yang datang dari berbagai daerah mulai dari Bali, Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Kebhinekaan inilah yang menjadikan pelajar Pasraman Gurukula Bangli belajar budaya dari berbagai daerah.

Pasraman Gurukula Bangli sangat terbuka terhadap pengauh dari luar, ini dibuktikan dengan banyaknya relawan dari Tiongkok dan Inggris yang secara rutin bersedia menjadi volunteer untuk mengajarkan Bahasa Inggris dan komputer.

Sistem pendidikan tradisional gurukula telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, sebagaimana dikisahkan dalam epos Mahabharata, kemudian sempat ditinggalkan oleh masyarakat hindu. Pada 1900-an, sistem pendidikan gurukula dihidupkan kembali di India mulai dari jenjang pendidikan usia dini sampai dengan pendidikan tinggi, sehingga proses perkembangan anak bisa diketahui dengan baik.

Pasraman Gurukula Bangli menjadi salah satu pasraman yang berusaha menghidupkan kembali sistem pendidikan gurukula pada masyarakat hindu di Bali. Sistem pendidikan tradisional gurukula seperti, murid yang di asramakan, tidak diperkenankan membawa gawai, dan melibatkan semua siswa dalam pengelolaan sekolah merupakan sistem pendidikan tradisional hindu yang melatih siswa untuk belajar hidup mandiri dan bertanggungjawab yang didasari dengan rasa kekeluargaan.

Usaha menghidupkan kembali sistem pendidikan pasraman yang sempat hilang di masyarakat, sangat terasa ketika tim kajian Museum Kebangkitan Nasional sampai di Pasraman Gurukula Bangli pada 13 Juli 2018. Kami disambut dengan berbagai pertunjukkan kesenian siswa, salah satunya adalah Tari Rejang Renteng yang sempat puluhan tahun hilang di Bali. Selain itu mereka juga menampilkan permainan tabuh gamelan, yoga, barong, dan lain sebagainya. Kegiatan pelestarian seni budaya di Pasraman Gurukula Bangli inilah, yang membuat siswa pasraman sering dilibatkan tampil dalam acara hari-hari besar agama hindu di masyarakat.

Pasraman Gurukula Bangli menjadi salah satu potret sistem pendidikan hindu tradisional yang pernah ada, pada ratusan tahun yang lalu di Indonesia. Jauh sebelum bangsa Belanda datang dan memperkenalkan sistem pendidikannya. Pendidikan pasraman merupakan sistem pendidikan yang menjaga keselarasan alam dan mempertahankan kearifan lokal masyarakat hindu. Namun, sistem pendidikan tradisional pasraman tidak membuat Pasraman Gurukula Bangli tertinggal dari instansi pendidikan lainnya, justru membuat mereka meroket dalam berbagai bidang prestasi, baik akademik maupun non akademik. 



» Berita Terkait






Artikel (128)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Virtual Tour Muskitnas (1)